Senin, 17 Januari 2011

Penyakit yang Menimpa Perempuan Tidak Berjilbab adalah MILANOMIA dan dijuhkan dari surga

Rasulullah SAW bersabda, "Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lengkok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya”
(HR. Abu Daud)

Penelitian ilmiah kontemporer telah menemukan bahwasa perempuan yang tidak berjilbab atau berpakaian tetapi ketat, maka ia akan mengalami berbagai penyakit kanker ganas di sekujur tubuhnya yang terbuka. Majalah kedokteran Inggris melansir hasil penelitian ilmiah dengan mengutip beberapa fakta, bahwa kanker ganas MILANOMA  pada usia dini, semakin bertambah dan menyebar sampai di kaki. Dan sebab utama penyakit kanker ganas ini adalah pakaian ketat yang dikenakan di terik matahari, dalam waktu yang panjang selama bertahun-tahun. Orang yang menderita kanker ganas ini tidak akan hidup lama, dan ada obat penyembuh kanker ganas ini.
Dari sini, kita mengetahui hikmah yang agung dari anatomi tubuh manusia di dalam perspektif Islam tentang perempuan yang melanggar batas syari'at. yaitu model pakaian perempuan yang benar adalah yang menutupi seluruh tubuhnya, tidak ketat, tidak transparan, kecuali wajah dan telapak tangan. Dan sungguh semakin jelaslah bahwa pakaian yang sederhana dan sopan adalah upaya preventif yang paling bagus agar tidak terkena "adzab dunia" seperti penyakit tersebut di atas, apalagi adzab akhirat yang jauh lebih dahsyat dan pedih.
So, mari ukhti kita benahi penampilan kita dengan berjilbab. Selain menjalankan syari’at islam, juga bisa menghindari diri kita dari penyakit kulit kibat sengatan matahari.

I love you mom with all my heart

Mamah, di saat seharusnya kau beristirahat dan menikmati apa yang telah kau usahakan
Petaka itu datang, Ia pergi, meninggalkan tanggung jawabnya mencari kesenangan pribadi
Kau jatuh dan sakit, kutahu itu. Kau perih dan nelangsa aku juga tahu itu
Namun aku juga tahu, kau wanita yang tegar dan kuat, bak beringin, menjulang dan kokoh bak kelapa
Mah. . .
Betapa susah kau melahirkan ku
Betapa sengsara kau membesarkan ku
Betapa repotnya kau mendidik ku
Begitu besar kasih sayang mu
Mah. . .
Ku menyesal telah membuatmu sedih
Ku menyesal pernah tidak menurutimu
Ku menyesal pernah membentak mu
Betapa durhakanya diri ku

Kau terima segala beban yang ditinggalkan dengan penuh rasa sabar.
Kau tetap usahakan setiap kebutuhan utama
maupun sampingan bagi putra-putramu terpenuhi
Kau usahakan dengan setiap tetes keringatmu dan jerih payahmu.
Mah. . .
Engkau selalu peduli diwaktu  ku sakit
Engkau selalu hadir diwaktu ku susah
Engkau selalu mebghibur diwaktu ku sedih
Engkau Selalu menopang diwaktu ku butuhkan
Engkau segalanya bagi ku

Kini kau tak muda lagi Mamah, nyeri sendi terus menerus menyerangmu.
Kau mengeluh tentang nyeri sendi,
namun kau tak pernah mengeluh untuk memenuhi kebutuhan anak-anakmu.
Biaya sekolah yang sedemikian mahal, internet bulanan yang selalu menuntut bayaran
Tak kau pedulikan, asalkan putra-putri mu dapat berkembang dan maju.
Kini kau tak muda lagi Mamah.
Di saat wanita yang lain sibuk merawat kecantikan
Kau sibuk merawat putra-putramu
Memberikan nasihat bagaimana tegar menghadapi kejamnya manusia dan kerasnya kehidupan

Bagaikan air yang terus mengalir, demikian pula kasihmu Mamah
Jikalau mereka berkata surga berada di telapak kaki ibu, maka bagiku kau lah surga itu sendiri
Karena di dadamu aku merasa tenang, dan dalam jiwamu aku merasa terpenuhi
Jika mereka berkata kasih ibu sepanjang jalan,
Maka bagiku kasihmu tak terukur, karena dirimulah kasih itu
Engkaulah perwujudan Rahman dan Rahiim Ilahi di muka bumi
Karena engkaulah seluruh malaikat yang tidak segan menitikkan air mata saat aku mulai tertidur lelap
Karena doamulah seluruh alam bergetar mengalunkan pujian dan rintihan,

Mamah, teruslah hidup, biarkan tanganku yang pernah kau basuh membasuh kakimu,
Biarkan bibir yang dulu kau suapi, mencium lututmu
Dan biarkan mata yang dulu kau urapi menangis karena tak dapat membayar semua kasihmu.
Mamah, walaupun seisi dunia ini kuboyong ke hadapanmu, tiada sedikitpun dapat membayar kasihmu yang kau limpahkan untuk merawat diriku ini.

Mah. . .
Hati ku terenyuh ketika kau berkata : ”Terimakasih, semoga Allah selalu melindungi mu nak” saat aku mencium tangan mu
Hati ku hancur ketika kau berkata : “Maaf mamah sudah merepotkan kamu” saat aku merawatmu sakit
Mama. . . semua tidak ada artinya disbanding kasih sayang mu pada ku
Mama. . . aku sangat menyayangi mu

Ya Allah
Berilah kekuatan, kesehatan dan kebahagiaan yang melimpah untuk mamah ku
Jangan biarkan kasih ku habis untuknya
Semoga aku dapat member kebahagian seumur hidupnya
Amin…

Met Milad ukhti.... ^^

Putaran waktu akan terus berjalan dan tidak akan terulang lagi.
Hari kemarin adalah "Kenangan"
Hari ini adalah "Kenyataan"
Hari esok adalah "Impian"
Akankah kita berharap "Rabb, saat usiaku semakin berkurang dan semakin dekat untuk kembali padaMu, ampuni segala dosa ku sepanjang usia yang telah ku jalani dan dekatkan aku padaMu dalam segala umur"


Met milad ukhti....^^